Are you a Leader or a Manager?

My Insight: Are you a Leader or a Manager?

What is the difference between managers and leaders? What sets them apart?

I have found over the years running various different companies that not all good managers go on to make great leaders.That might sound strange but I have always been a big believer in differentiating between managing a group of people and leading a company. The best leaders are the ones who are always looking to move the business they run onto the next stage of its development.

However, being a good manager is a skill that is developed over time and comes with plenty of experience. Knowing how to deal with your workforce on an individual and collective basis is a vital part of any well run organisation or business.

It has long been a mantra of mine that the key ingredients of any successful business are the people who work for it. Get the right mixture of people working for you and you will be well on the road to success. Having the right management team in place is a prerequisite if you want to ensure that your workforce is going to operate to its full potential.

But being a great leader involves a completely different set of skills and many businesses often make the mistake of failing to differentiate between the two.

When I am looking to elevate someone to a leadership role within one of my companies, I am looking for a very specific set of qualities. I am looking for people who have passion, commitment, conviction and most important of all – vision.

The need for a strong leadership team should never be underestimated, it’s that team that will really make the difference on every level. People like to know that the company they are working for has a clear sense of direction and purpose.

Generally speaking if you want commitment from your staff then you have to demonstrate to them that the executive team share that commitment.

The commitment that employees make to the company they work for should never be underestimated or undervalued. That is why identifying the right calibre of people to fill leadership roles is so important.

I have found that too many companies, particularly those run by owner-managers, do not think about succession planning until it is too late. Not planning properly for the future can be a fatal mistake, as a company without a proper leadership team in place is always going to fail.

The trick to having a successful succession strategy in place is to park your ego and look at the situation in a logical way. Not everyone can be around forever, and if truth be told, often a company can benefit from having a fresh injection of talent and ideas right at the very top.

I would say it is vital to identify people who are going to lead a company forward rather than just manage the business. That is why it is so important to differentiate between management and leadership.

Once you have done that, the next thing to do is place your trust in the new leadership team, take a step back and let them get on with the job.

James Caan
CEO of Hamilton Bradshaw

Advertisements
Posted in job | Leave a comment

Work is Where You Play

Fiqhislam.com – Judul di atas saya temukan pada sebuah gedung perkantoran baru di jalan Sudirman, Jakarta. Work is Where You Play.

Terjemahan bebasnya, bekerja dan bermain itu mestinya menyatu, di sinilah tempatnya. Tetapi saya ragu, mungkin yang ditawarkan oleh iklan ini sekadar promosi gedung yang dianggap mengasyikkan, bukannya kualitas dan jenis pekerjaan sebagaimana pesan judul di atas.

Ciri bermain adalah adanya antusiasme untuk meraih prestasi dengan insentif kepuasan emosional, bukannya material. Orang yang asyik bermain akan lupa waktu. Perhatikan saja para pemain bola kaki, tenis atau golf, rasanya waktu masih kurang begitu permainan dinyatakan berakhir. Terlebih pada golf, selalu saja ada nafsu untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang telah diperbuat agar tidak terulang pada hole berikutnya atau permainan di hari lain. Andaikan suasana kerja seantusias bermain, pasti perusahaan dan negara tak akan bangkrut.

Tentu saja bermain hanyalah selingan dalam hidup. Hidup mesti diisi dengan kerja produktif. Salah satu yang membuat semangat dalam bekerja adalah insentif gaji. Tetapi hubungan semangat kerja dan gaji tidak selalu memiliki korelasi positif, terutama di kalangan pegawai negeri sipil tingkat bawah. Makanya populer istilah PGPS, pinter-goblok penghasilan sama. Yakin bahwa jumlah gaji tak bertambah sekalipun kerjanya meningkat, maka gaji bulanan lama-lama kehilangan daya dorongnya agar seseorang bekerja lebih kreatif dan produktif.

Yang menyedihkan adalah mereka yang memiliki jabatan lalu menciptakan dan mengejar insentif diluar gaji, yang sejak awal kebijakan itu diatur sedemikian rupa sehingga yang terjadi tak lebih sebagai praktik korupsi terselubung. Bekerja dengan cara demikian, ibarat permainan, mereka bermain kotor, curang, dan kalaupun menang kepuasannya semu. Sebuah kemenangan bohong-bohongan.

You are What You Do

Harga diri seseorang akan terbentuk dan terukur oleh hasil karyanya. Bekerja adalah dorongan, tuntutan dan kebutuhan manusia sebagaimana makan, bernafas ataupun tidur. Kerja adalah kebutuhan eksistensial. Bayangkan, andaikan dalam seminggu hari kerja hanya dua hari, lalu selebihnya menganggur, pasti tidak akan bahagia. Menganggur, tidak ada aktivitas dan penghasilan, akan menggerogoti harga diri dan kebahagiaan. Kebahagiaan hidup diraih dengan kerja produktif yang bermakna bagi orang lain.

Yang paling ideal adalah jika seseorang bisa menyatukan antara hobi dan bekerja yang sekaligus mendatangkan insentif uang dan penghargaan masyarakat. Kerja semacam itu pasti menggairahkan sebagaimana kita bermain atas dasar hobi, namun mendatangkan uang dan menggembirakan orang lain. Dalam konteks ini para pekerja seni mendekati kriteria dimaksud. Bercampur antara bermain, bekerja dan menghibur orang lain. Oleh karenanya, pemain piano yang lagi manggung dan bermain secara total, misalnya, ketika sudah hanyut dalam permainan, bisa lupa apakah permainan itu ditonton orang ataukah tidak, dia tidak peduli.

Begitu juga halnya atlet sejati. Tidak lagi ada batas antara bekerja dan bermain serta aktualisasi diri. Bintang sepakbola dunia begitu turun ke lapangan bagaikan penari naik panggung, atau perenang masuk kolam, mereka lebur secara total ke dalamnya, tak lagi memikirkan insentif uang. Makanya ada nasehat, kalau Anda lagi bertanding tenis, misalnya, fokuslah dan leburlah dalam permainan, jangan sering-sering matanya melihat papan nilai, karena permainan akan rusak. Orang yang fokus pada insentif akan menomorduakan pekerjaan. Tetapi jika seorang profesional berkarya secara optimal, insentif akan mengejar dan melayani dirinya.

Merubah Makna Kerja

Orang yang bekerja tanpa skill dan hati, maka ruang kerja akan berubah menjadi ruang tahanan, sehingga judul di atas berubah menjadi: Work is Where You are Becoming a Prisoner. Bekerja tanpa skill, spirit pengabdian dan cinta pada profesinya akan terasa sangat melelahkan, dan bahkan menyiksa. Begitu di ruang kerja Anda tiba-tiba secara psikologis masuk ruang tahanan. Padahal rumus yang ideal: 9 to 5 is a happy hour. Situasi inilah yang mungkin dinikmati oleh para pekerja seni dan atlet profesional.

Mestinya jenis pekerjaan apapun bisa diubah atau diciptakan sebagai aktualisasi diri yang mengasyikkan, sehingga seseorang bekerja melebihi jatah waktu dan target. Hidup, berkarya dan bermain dikondisikan agar menjadi satu paket three in one. Bukankah hidup itu sendiri sebuah anugerah Tuhan yang harus dirayakan dengan kerja kreatif, produktif dan konstruktif?

Dengan semakin majunya teknologi modern, sekarang ini sangat memungkinkan menciptakan suasana kerja lebih nyaman dan menyenangkan, tanpa mengurangi produktivitas. Lebih dari sekadar tempat bekerja, suasana kantor mestinya juga dirubah agar merupakan suatu komunitas ekslusif dengan aura kekerabatan dan pertemanan yang semuanya tetap memiliki komitmen menjaga etika profesionalisme.

Orang yang bekerja namun tidak memiliki kebanggaan dan kepuasaan atas hasilnya disebut “alienated person”, yaitu pribadi yang tercerabut dan tersingkir dari apa yang ia lakukan. Lebih parah lagi kalau seseorang benci pada pekerjaannya, lalu berkembang pada lingkungan sosialnya, maka akan mengalami kepribadian yang pecah dan lebih jauh lagi bisa disebut sakit mental. Jika tidak bekerja takut akan bayang-bayang pengangguran dan jika tidak bekerja tidak akan memiliki penghasilan tetap, sementara kalau masuk kerja juga merasa tersiksa. Inilah yang dimaksud teralienasi, dimana seseorang tidak lagi menjadi tuan bagi dirinya sendiri.

Dengan bekerja maka manusia menjadi dirinya dan menjaga martabatnya. Coba renungkan. Tuhan memberikan semua fasilitas yang terhampar dan tersimpan di bumi. Lalu manusia dianugerahi organ tubuh yang sangat canggih serta pikiran yang sangat hebat. Untuk apa semua itu jika tidak untuk berkarya memakmurkan bumi dan berbagi kasih sayang serta kebajikan dengan sesamanya? Demikianlah yang selalu diulang-ulang oleh Al-Qur’an bahwa anjuran beriman mesti selalu dikaitkan dengan perintah amal saleh. Yaitu perbuatan yang benar, baik dan berguna. Ajaran ini akan dijumpai pada semua agama. Ciri orang yang beriman adalah mereka yang selalu berkarya di jalan yang benar dan baik, untuk tujuan kebenaran dan kebaikan.

Tetapi bekerja sekadar benar dan baik belumlah cukup. Mesti ditambah nilai keindahan. Banyak pekerjaan yang benar dan baik, tetapi belum tentu indah. Tanpa keindahan kehidupan akan terasa kering. Tanpa kerja produktif seseorang juga akan kehilangan harga dirinya. Jangan bayangkan seseorang akan merasa bahagia dengan mengandalkan warisan orangtua tanpa yang bersangkutan memiliki ketrampilan kerja.

Berulangkali saya ketemu pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia karena tidak memiliki ketrampilan dan kepandaian yang dibanggakan. Dia hidup bersama keluarganya dengan harta warisan orangtuanya yang telah meninggal. Di hatinya merasa iri dan malu terhadap teman sebayanya yang bisa bekerja secara profesional dan hasil karyanya mendapat penghargaan dari masyarakat. Jadi, kerja, harga diri dan kebahagiaan saling terkait, isi mengisi.

Menjadi persoalan ketika bekerja secara terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Yang demikian ini dialami oleh banyak penduduk Indonesia. Langkah pertama adalah mengembangkan ketrampilan dan mencari pekerjaan yang cocok dan disenangi, entah di lingkungan lama ataupun yang baru. Kedua, jika kondisi eksternal tidak bisa diubah, maka seseorang harus merubah kondisi internalnya. Yaitu belajar mencintai pekerjaan yang tersedia.

Namun di atas itu semua, seseorang akan merasa bermakna hidup dan aktivitasnya kalau memiliki niat dan pandangan hidup yang mulia bahwa hidup adalah festival yang harus dirayakan dan juga hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri serta dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Kalau kita bekerja semata mengharapkan insentif material-duniawi, maka bersiaplah untuk kecewa. Kebaikan orang biasanya bersyarat dan terbatas. Orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan enggan berkurban serta memberi berlebih pada orang lain kecuali ada kalkulasi untung rugi. Kecuali mereka yang benar-benar menghayati bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu justru terletak dalam mencintai dan memberi, bukannya meminta dan mengambil, sebagai rasaya syukur pada Sang pemberi hidup.

Jadi, berbahagialah mereka yang berhasil mempertemukan: bekerja, bermain, beramal saleh, bermasyarakat dan mensyukuri hidup. I work, therefore I am; bukannya, I have therefore I am. “Eksistensiku ditandai dengan karyaku, bukan karena hartaku”.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

metrotvnews.com

Posted in job | Leave a comment

Bola karet dan bola kaca

Fiqhislam.com – Hidup ini seperti pemain circus yang harus memutar sejumlah bola di udara, hanya saja sebagian dari bola-bola itu adalah bola karet dan sebagian yang lain adalah bola kaca.

Bola-bola dari karet boleh saja dikorbankan untuk jatuh bila dipandang perlu, karena dia akan memantul dengan sendirinya dan dapat diambil kembali saat dibutuhkan.

Bola-bola dari kaca tidak boleh jatuh sama sekali – karena sekali jatuh dia hancur, jadi dia harus selalu tertangkap tangan dan tidak boleh dikorbankan. Memahami mana yang bola karet dan mana yang bola kaca akan menentukan apa yang menjadi prioritas hidup Anda.

Ambil misalnya Andalah pemain circus itu dan Anda bermain dengan lima bola, sebut saja: pekerjaan, keluarga, pertemanan, kesehatan, keimanan. Mana diantara lima ‘bola’ ini yang bola karet dan mana yang ‘bola’ kaca bagi Anda? Setiap orang akan memiliki pilihannya sendiri.

Idealnya adalah kita perlakukan semuanya sebagai ‘bola kaca’ sehingga tidak ada satupun yang boleh jatuh. ‘Pemain circus’ yang pinter mungkin saja bisa melakukan ini, tetapi kebanyakan orang suatu saat akan terpaksa membiarkan salah satunya jatuh. Bila ini yang harus dilakukan, maka hanya bola karet-lah yang boleh jatuh.

Dalam perjalanan karir saya sebagai karyawan dahulu, berulangkali saya harus membiarkan ‘bola karet’ pekerjaan itu jatuh. Karena ini yang paling aman untuk dijatuhkan bila terpaksa, dan insyaallah selalu dapat dipungut lagi – dalam bentuk pekerjaan lain.

Nampaknya sederhana tetapi banyak juga orang yang salah pilih – menganggap pekerjaannya adalah ‘bola kaca’ sedangkan yang lain adalah ‘bola karet’. Kok bisa? Ini terjadi ketika orang mengorbankan keluarga, pertemanan, kesehatan dan bahkan keimanan – demi untuk mempertahankan pekerjaannya.

Apakah Anda termasuk yang menganggap pekerjaan Anda adalah ‘bola kaca’? Anda bisa coba mengetesnya dengan sejumlah pernyataan berikut:

1. Orangtua, anak/pasangan Anda kritis di rumah sakit – Anda serahkan ke perawat dan yang lain untuk menanganinya karena Anda sibuk dengan pekerjaan.

2. Anda rela mengorbankan pertemanan Anda demi karir dan pekerjaan Anda.

3. Kesibukan pekerjaan Anda yang luar biasa membuat Anda tidak bisa makan dan tidur secara sehat dan tidak sempat berolah raga menjaga kesehatan.

4. Demi pekerjaan Anda, Anda berani menyerempet bahaya dengan hal-hal yang bersifat suap, korupsi, permainan proyek dan sejenisnya.

5. Anda tidak peduli dengan pendapatan perusahaan/instansi Anda yang bercampur dengan Riba, Maisir dan Gharar.

Bila salah satu saja dari lima statement tersebut diatas Anda iya-kan , maka kemungkinan besar Anda telah menganggap pekerjaan Anda adalah ‘bola kaca’-nya dan yang lain adalah bola karet.

Bila no 1 yang Anda iya-kan, berarti keluarga yang menjadi ‘bola karet’-nya.

Bila no 2 yang Anda iya-kan, berarti pertemanan Anda yang Anda jadikan ‘bola karet’nya.

Bila no 3 yang Anda iya-kan, berarti kesehatan Anda yang menjadi ‘bola karet’nya.

Bila no 4 atau 5 yang Anda iya-kan, berarti keimanan Anda yang Anda jadikan ‘bola karet’-nya.

Memilah dan memilih mana yang Anda anggap bola karet dan mana yang bola kaca ini akan memudahkan Anda menentukan sikap mana yang harus dipertahankan mati-matian tidak boleh jatuh, dan mana yang boleh jatuh bila situasi memaksa. Wa Allahu A’lam.*

Oleh: Muhaimin Iqbal
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Posted in job, Life | Leave a comment

Menikmati Pekerjaan Yang Tidak Anda Sukai

Kalau semua orang, setelah lulus dari universitas, lantas mendapatkan pekerjaan sesuai dengan harapan dan cita-citanya, maka betapa indahnya hidup ini. Tapi, hal seperti itu hanya terjadi dalam dunia ideal. Sedangkan dalam kenyataan sehari-hari, kehidupan lebih sering berjalan jauh dari situasi yang kita idealkan. Sudah bukan cerita baru lagi kalau banyak lulusan teknik yang akhirnya, karena berbagai faktor dan keadaan yang memaksa, bekerja di bank atau lulusan pertanian ujung-ujungnya menjadi wartawan.

Barangkali Anda termasuk karyawan yang diam-diam merasa tidak menyukai pekerjaan Anda. Penyababnya bisa banyak hal. Namun, apa pun itu, yang jelas itulah kenyataan yang Anda hadapi saat ini. Berhentilah mengeluh, dan mulailah untuk belajar menyadari bahwa Anda tidak bisa terus-menerus buang-buang waktu dengan menyesali apa yang telah terjadi. Sebab, kadang, pada kenyataannya, sebanyak apa pun keluhan Anda toh, keberanian untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain yang sesuai keinginan, tak kunjung Anda miliki.

Lebih-lebih, dalam situasi krisis seperti sekarang, mencari pekerjaan sulit dan bahkan banyak terjadi PHK, mungkin Anda akan semakin tenggelam dalam kubikel meja kerja Anda dan menelan ketidaksukaan Anda pada pekerjaan yang harus Anda jalani sehari-hari. Mau tidak mau. Nasihat paling gampang, tentu, terimalah kenyataan. Tapi, Anda pasti akan mengejar lagi, setelah itu apa? Baiklah, mudah-mudahan tips berikut ini cukup membantu:

1. Sadarilah, untuk mencapai suatu kesuksesan orang harus mampu melakukan dengan baik hal-hal yang tidak disukai, termasuk pekerjaan. Bersikaplah profesional, konsisten dengan kinerja yang bagus. Bila Anda menonjol di antara teman-teman sekantor, mungkin Anda akan merasa lebih terpacu untuk mencintai pekerjaan Anda.

2. Berusahalah untuk melihat suatu pekerjana bukan semata-mata sebagai hasil, melainkan lebih pada prosesnya. Rasakan dan nikmati proses itu. Anda akan belajar banyak hal dari sana.

3. Berpikirlah ke depan. Lihat apa yang Anda lakukan sekarang ini dalam tatapan jangka panjang. Yakinlah bahwa apa yang Anda kerjakan saat ini akan bermanfaat dan memberi konstribusi pada masa depan Anda nanti –sebagai apa pun dan di mana pun Anda di masa yang akan datang.

4. Libatkan diri Anda dalam pergaulan yang seluas-luasnya dalam lingkungan kerja. Nikmati interaksi dengan orang lain. Belajarlah dari tim bagaimana menyelesaikan masalah bersama. Jangan lewatkan kesempatan untuk terlibat dalam urusan-urusan dengan klien, bertemu orang baru, saling tukar kartu nama dengan kolega-kolega.

5. Selalu berpikir positif. Barangkali ini agak klise tapi, konteksnya begini: jadikanlah situasi yang menekan (karena Anda tidak suka dengan pekerjaan Anda) itu sebagai peluang. Berpikirlah bahwa ini semua tantangan bagi Anda.

Posted in job | Leave a comment

Pilih Karier atau Wirausaha?

KOMPAS.com — Setiap orang pasti memiliki rencana dalam hidupnya. Salah satunya, bagaimana ia akan menikmati hari tua kelak. Alternatif yang bisa dipilih? dengan mengumpulkan cukup simpanan dana pensiun atau memiliki usaha sendiri ketika masih pada usia produktif. Mana yang lebih tepat? Berikut kiat dari Eko Endarto RFA, perencana keuangan dari Finansial Consulting, agar tidak terjerumus pada keputusan yang kurang tepat sebelum memutuskan mengakhiri karier dan memulai usaha sendiri.

Baca peluang
Pada dasarnya yang dilihat dari sebuah pilihan berkarier atau wirausaha bukan sekadar peluang. Peluang itu akan selalu ada. Namun, yang paling penting untuk diperhatikan adalah apakah peluang itu bisa menjadi prospek yang bagus untuk masa depan kita? Pahami jika ini sudah melewati pertimbangan yang matang. Semua pilihan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Cara terbaik untuk mengetahui pilihan yang tepat adalah dengan membuat pertimbangan peluang yang bisa memberikan prospek bagus bagi diri kita ke depan. Bila prospeknya bagus dan hal itu bisa terjadi, maka apa pun pilihannya takkan jadi masalah.

Bisa kapan saja
Pilihan berwirausaha sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Apakah ketika masih di usia produktif, atau ketika sudah memasuki masa pensiun. Prinsipnya, bila merasa pilihan dan peluang yang diberikan bisa mendatangkan prospek bagus, maka mengapa tidak? Prospek yang baik ini bukan hanya dilihat dari kekayaan atau kesejahteraan yang bisa dicapai, melainkan juga memberikan aktualisasi diri.

Mengenai penentuan kapan berwirausaha dapat dimulai, lebih cepat dimulai tentu lebih baik.

Ingat, wirausaha adalah sebuah proses, bukan seperti bekerja dan menerima gaji secara langsung setelah 1 bulan kita menerima pekerjaan. Hasilnya baru akan dipetik setelah usaha membuahkan hasil dan kedatangan keberhasilan itu tidak dapat diprediksi; bisa cepat, bisa juga lambat; tergantung bagaimana seseorang menjalani proses tersebut.

Kesungguhan dan disiplin
Sebelum memulai berwirausaha, pastinya akan ada pertanyaan besar yang mengganjal: Berapa besar modal yang harus dikumpulkan untuk bisa memulai usaha baru?

Sebenarnya tidak ada patokan berapa besar modal uang yang dibutuhkan, tapi yang paling utama adalah modal kesungguhan dan disiplin menjalani proses. Namun, tidak mungkin bisa menjalankan usaha tanpa ada uang sama sekali. Tetap dibutuhkan perhitungan modal sebelum menjalankan usaha.

Nah, besaran modal yang dibutuhkan tersebut sangat tergantung dengan jenis dan besaran usaha yang akan dijalankan. Kalau dimulai dari usaha yang kecil, hanya dengan dana Rp 100.000 pun kita sudah bisa memulai usaha. Begitu pula untuk usaha yang lebih besar.

Namun, dengan dana Rp 100 juta, modal usaha juga bisa kurang jika digunakan untuk usaha jenis lain. Jadi, modal usaha memang sangat tergantung jenis dan skala besaran usahanya. Sebaiknya kalkulasikan dengan baik sasaran usaha yang akan dilakukan dan sisihkan dahulu penghasilan sebagai modal usaha kelak.

Berapa dana yang disisihkan? Minimal sisihkan 20 persen dari penghasilan untuk dikumpulkan sebagai modal usaha. Anggaplah usaha ini kelak sebagai investasi masa depan.

Fokus pada tujuan
Sebelum memilih untuk berwirausaha, pahami bila pada setiap usaha pasti akan mengalami masa sulit. Tanamkan dalam pemikiran, usaha adalah proses. Di dalam proses tersebut selalu ada saat yang bagus, tetapi ada juga yang tidak bagus. Apabila masa sulit datang, cobalah ingat kembali bahwa salah satu alasan kita memilih berwirausaha adalah prospek ke depan lebih menjanjikan atau paling tidak akan lebih baik dari kondisi saat ini.

Hal penting lain yang patut dicatat adalah selalu fokus pada tujuan masa depan. Mungkin akan selalu ada goncangan kecil dalam perjalanan mencapai tujuan, tapi jangan sampai menghancurkan keyakinan, apalagi hingga menghilangkan harapan pada tujuan ke depan.

Asuransi usaha
Semua kegiatan pasti ada risikonya, termasuk juga usaha. Selain itu, saat ini, Anda dapat memilih menanggung risiko itu sendirian dengan kekayaan pribadi atau dengan meletakkan risiko tersebut ke orang lain dengan asuransi. Memang, pada dasarnya usaha tidak dapat diasuransikan. Namun, aset usaha sangat bisa diasuransikan.

Aset usaha berupa tempat usaha, barang dagangan, atau jenis aset lainnya masih bisa diasuransikan. Caranya, dengan menghubungi perusahaan asuransi kerugian. Bersama mereka, kita dapat menghitung besaran aset yang dapat diasuransikan. Selain itu, konsultasikan mengenai produk yang paling sesuai dengan risiko yang paling mungkin terjadi terhadap usaha yang Anda pilih. (Editor: NF)

(Tabloid Nova)

Posted in Life | Leave a comment

Provokasi SmartFM: Belajar Dari Kelelawar

Provokasi: Belajar Dari Kelelawar
27 December 2010 smartfm

Saya mendengar dongeng ini dari mantan bos saya, Bapak Mualim Muslih. Pada suatu masa, dunia fauna dikuasai oleh 2 bangsa binatang, yaitu bangsa mamalia dan bangsa burung. Pada suatu hari, kelelawar melihat tempat bangsa mamalia, dan melihat ada banyak makanan di sana. Mereka lalu terbang kesana. Namun saat tiba mereka dicegat oleh pasukan mamalia karena para kelelawar dianggap sebagai bangsa burung. Namun kelelawar berkata, “kami termasuk binatang mamalia, karena kami punya taring dan menyusui”. Akhirnya para kelelawar diizinkan masuk.

Setelah itu para kelelawar terbang. Di tengah perjalanan mereka melihat tempat bangsa burung dan banyak makanan di sana. Merekapun lalu menuju ke sana. Namun saat tiba mereka dicegat oleh pasukan burung karena para kelelawar dianggap sebagai bangsa mamalia. Kelelawar lalu berkata, “kami adalah bangsa burung karena kami bisa terbang”. Akhirnya para kelelawar diizinkan masuk.

Dalam satu konteks, contohlah kelelawar. Kemampuan kelelawar untuk menyamakan diri dengan lawan bicara disebut “matching” yang merupakan teknik mempercepat rasa suka dan percaya dari lawan bicara. Kalau sudah percaya, maka saran-saran kita akan lebih didengar. Konsep ini baik diterapkan oleh orangtua kepada anak, pimpinan kepada anak buah, atau guru kepada murid.
Tapi dalam konteks lain, jangan contoh sifat kelelawar yang lain, yaitu bermuka dua, dan tidak punya integritas. Milikilah karakter yang jelas dan tegas. Pilih salah satu peran, pratagonis atau antagonis. Kalau dibawa kedalam dunia wayang, jadi kurawa atau pandawa, jahat atau baik.

Posted in Life | Tagged | Leave a comment

Mengapa Harus RESIGN?

Mengapa Harus RESIGN?

Bekerja seharusnya menjadikan diri kita bahagia, karena selain terpenuhinya kebutuhan dasar, bekerja menjadikan kita bisa memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Namun kadangkala pekerjaan membuat kita frustasi dan depresi, opsi resign atau keluar dari pekerjaan kadang menjadi pilihan yang tepat. Berikut beberapa alasan kenapa anda harus resign dari pekerjaan anda sekarang.

1. Adakah manfaat yang diberikan untuk orang lain
Jika anda berfikir bahwa pekerjaan yang anda lakukan sudah tidak memberikan manfaat apapun bagi orang lain, maka pekerjaan tersebut sudah tidak lagi bernilai, segeralah keluar dan mencari pekerjaan baru.
2. Bukan sebuah passion
Passion memberikan energi tanpa batas. Bekerja dengan passion membuat anda merasa senang dan selalu menikmati hari-hari anda di ruang kerja. Passion juga mencegah anda dari putus asa dan frustasi saat anda menghadapi masalah. Begitu juga sebaliknya, jika pekerjaan saat ini bukanlah passion anda, maka anda akan rentan terhadap stress. Carilah pekerjaan yang sesuai dengan passion, jadikan bekerja layaknya hobi.
3. Tidak ada ilmu dan pengalaman baru yang di dapat
Review-lah pekerjaan anda, apakah ada pengalaman atau keterampilan baru yang di dapat dalam tiga atau enam bulan terakhir? jika tidak, maka segeralah buat surat resign dan ajukan ke direksi.
4. Mengeluh
Anda terus menerus mengeluh mengenai pekerjaan. Setiap ada kesempatan, bahkan kepada rekan sekantor yang tidak terlalu akrab, Anda sering berkata betapa menyebalkan dan melelahkannya pekerjaan Anda.
5. Kusut
Wajah segar, rambut menawan, dan pakaian rapi tak pernah lagi terlihat. Anda kerap datang ke kantor dengan wajah yang lesu & penampilan yang kusut. Ini bisa jadi tanda betapa pekerjaan telah membuat Anda tak bahagia.
6. Hilang Konsentrasi
Di tengah-tengah rapat penting Anda asyik menghayal. Bukannya mengerjakan pekerjaan yang sudah dekat deadline, Anda malah seru ngerumpi dengan teman.

Aside | Posted on by | Tagged | Leave a comment